The Diary Game [Sept 3, 2021] Two Boys Haircut |

in hive-103393 •  last month 

03.jpg


02.jpg
Dek Rafa gunting rambut.


Rencananya aku berangkat ke kantor lebih pagi hari ini. Tapi karena sudah memulai kerja di rumah, aku keterusan bekerja. Kupikir, aku baru bisa melanjutkan pekerjaan di kantor kalau memulainya lebih pagi.

Tapi karena aku memulainya sejak jam 07.00 dan ditambah dengan kegiatan rutin di rumah seperti menyapu, akhirnya sudah lewat pukul 09.00 aku masih belum mandi. Pukul 09.00 adalah waktunya melihat portofolio saham karena pasar baru saja buka.

Aku tidak perlu membuang banyak waktu dengan saham karena semua sedang minus. Tidak ada emiten lain yang ingin kubeli dalam jumlah besar karena aku hanya melakukan average down saja dan hanya dua emiten yang kujual dengan harga maksimal pagi hari itu.


04.jpg
Bang Atha gunting rambut di tempat lain karena di barber shop pertama tidak bagus layanannya.


05.jpg
Rapat pementasan di Coffee Time. Kali ini sudah ada tambahan personel.


Bang Atha hari ini mengingatkan kembali keinginannya salat Jumat di Masjid Baiturrahman. Minggu lalu kami tidak sempat salat di Masjid Baiturrahman karena sudah terlambat. Jumat lalu, kami salat Jumat di Masjid Islamic Center.

Akhirnya, aku menyelesaikan pekerjaan di rumah karena waktu salat Jumat sudah dekat. Kawan-kawan Bang Atha sudah berkumpul dan akhirnya aku harus memutuskan langsung ke masjid.

Bang Atha dan Dek Rafa memang sering mengajak kawan-kawannya ke masjid bersama-sama. Biasanya kami salat di Masjid Baitul Huda Kutablang dan Masjid Islamic Center. Tapi Jumat ini ke Masjid Baiturrahman.


06.jpg


Setelah Jumatan selesai, kami minum di Bejee Coffee. Orang-orang yang ada di sana sempat melihat aneh kepadaku. Mungkin berpikir aku memiliki anak lelaki yang rame dan usianya rapat-rapat.

Agenda kami berikutnya adalah membawa Bang Atha dan Dek Rafa gunting rambut. Nah, kami memilih barber shop di Kutablang karena lebih dekat dan setelah ini aku punya janjian duduk dengan Raisa dan Koko untuk membahas agenda pementasan kami.

Tapi aku tidak puas dengan pelayanan barber shop di Kutablang. Setelah gunting Dek Rafa, harusnya mereka memegang Bang Atha karena kami sudah antre lama. Tapi mereka malah memegang orang lain yang belakangan masuk. Dan tidak ada sistem antrean lewat telepon di sini.

Dengan kesal, aku mengajak anak-anak cari barber shop lain. Memang gunting rambut itu paling enak di tempat langganan. Bagiku itu adalah Bernard Salon yang sudah berlangganan sejak 2003.

Aku membawa Bang Atha ke Bernard karena sorenya harus berjumpa dengan Koko dan Raisa. Kami sepakat duduk di Coffee Time. Selain kami bertiga, ada Aris juga yang baru kukenal. Kami tidak lama karena sudah menjelang magrib, Raisa harus pulang ke Krueng Geukueh.

Malamnya, aku dan Bunda ke stadium untuk membeli kelapa muda merah. Langganan kami di Samsam ternyata tidak buka sehingga kami membeli di tempat lain. Aku lumayan rutin mengonsumsi kelapa muda merah.[]


07.jpg
Membeli kelapa muda merah di Stadion.

Authors get paid when people like you upvote their post.
If you enjoyed what you read here, create your account today and start earning FREE STEEM!
Sort Order:  
  ·  last month (edited)

Orang-orang yang ada di sana sempat melihat aneh kepadaku. Mungkin berpikir aku memiliki anak lelaki yang rame dan usianya rapat-rapat

Sampai di bait ini, saya jadi tidak lagi fokus membaca diary nya bang Ayi. Ma'af, saya tidak bisa menahan gelak tawa.

Banyak anak, banyak rejeki bang Ayi. Wujudkan
😅

Saya memang sering membawa kawan-kawan anak yang sudah seperti anak sendiri, baik anak lelaki maupun perempuan. Jadi, kelihatan sangat banyak anak, hehehehe.....

Sekarang saya tau, ternyata bang Ayi orangnya cukup dekat dengan anak-anak. Saya juga demikian.

Sejak masih anak-anak sampai punya anak, saya suka dengan anak-anak. Bukan hanya suka dan cinta sama anak-anak, tapi juga sama mamak anak-anak...

Haha

Bereh 👍

Postingan ini telah dihargai oleh @steemcurator08 dengan dukungan dari Proyek Kurasi Komunitas Steem.

Ikuti @steemitblog untuk mendapatkan info tentang Steemit dan kontes.

Anroja